Kumpulan Cerita Fiksi Karya Bunda Iin

Monday, 7 November 2011

Aku Jomblo, So What?


Sebagai seorang wanita berusia tigapuluh lima tahun tanpa pendamping yang bisa kusebut suamiku tersayang, aku dikenal si jomblo sejati.
Jadi jomblo itu sebenarnya enak, bebas dan segalanya bisa kulakukan semauku tanpa larangan. Tapi yang bikin ga enak justru orang-orang sekitarku, seakan-akan kebutuhan untuk menikah itu bukan lagi untuk kepentinganku semata. Mulai dari orangtua, adik-adikku, tetangga, teman-teman, teman kerja bahkan sampai bosku seperti merasa risih dengan kejombloanku. Aku heran kenapa ya?

Dulu ketika aku lulus dari SMA lalu terpilih masuk di universitas ternama di Jakarta, Ibu dan Ayah mendukungku habis-habisan. “Pokok e nduk harus bisa jadi akuntan hebat, harus bisa bikin Ayah bangga” sementara ibu bilang, “iya, nduk, jangan kalah sama laki-laki. Capai cita-citamu setinggi langit”
Dan itulah yang kulakukan. Menjadi si enduk yang berhasil menjadi akuntan. Okelah belum terlalu hebat, tapi paling tidak aku berhasil bekerja di sebuah perusahaan bergengsi dan membuat namaku cukup dikenal.
Aku sibuk, sibuk menikmati pekerjaanku, menikmati kesendirianku. Usia terus bertambah, waktu  terus berjalan dan terus berjalan. Aku tak sempat lagi memikirkan tentang jodoh.  Satu dua kali ada lelaki singgah dalam kehidupanku, walaupun setelah makin mengenal mereka aku justru semakin yakin untuk tidak memilih mereka menjadi suamiku.
Tadinya ayah dan ibu sangat mendukungku, tetapi entah sejak kapan mereka mulai mendesakku untuk menikah. Pandangan senang tergambar jelas setiap kali ada laki-laki yang datang mencariku baik melalui telepon maupun ketika mereka datang. Semangat empat lima mereka memuji-muji laki-laki itu dan ketika aku bilang “hanya teman”, mereka tetap dengan iklan ayo-nak-cepat-nikah dengan mengatakan, “Yo cah ayu, witing tresno jalaran soko kulino. Wis dicoba aja kenapa toh nduk?” Dan seperti biasa, aku hanya tertawa. Macam membeli pakaian saja, pakai acara dicoba-coba. Kalau begini lebih baik aku menghindar secepatnya.
Lalu keributan terjadi ketika umurku mulai masuk angka 30, adik-adik perempuanku berbisik pada Ayah dan . “Ayo dong, Ayah. Suruh mbak nikah dong! Tahun depan Ajeng mau nikah dengan Mas Rino,” lalu  mendesak ibu di belakangku, “Ayo ibu, carikan mbak jodoh dong! Supaya kita gak nunggu-nunggu terus nih. Iya kalo pacar kita mau nungguin. Kalau nggak?” Bisik-bisik itu bahkan terlalu nyaring di telingaku ketika tanpa sengaja aku mendengarnya. Lalu suatu ketika saat makan malam akupun menjawab permintaan mereka, “Kalau kalian ingin menikah, menikah sajalah lebih dulu. Mbak ikhlas.” Adik-adikku langsung menangis terharu dan langsung memelukkku.
Maka satu persatu adikkupun menikah. Pertama Ajeng, disusul Laras dua tahun kemudian. Lalu Galih, setahun delapan bulan setelah pernikahan Laras. Dengan penuh keikhlasan kuterima adat pelangkah dari mereka. Dari Ajeng, aku mendapat seperangkat pakaian lengkap, dari Laras aku menerima gelang dan cincin. Sementara dari adikku Galih, aku menerima sepatu dan kalung. Tapi aku melihat kemuraman di wajah orangtua setiap kali aku menerima pelangkah. Kenapa ya? Apa mereka pikir duniaku runtuh kalau didahului adik-adikku? Entahlah.
Pernah suatu kali saat aku baru menerima pelangkah dari Laras. Tanpa sengaja telingaku mendengar seorang tamu wanita berbicara tentang diriku saat itu. “Tuh kasihan anaknya mba Retno, pasti jodohnya dikurung sama mantannya. Dibuang ke laut biar ga bisa ketemu.” Aku sempat terkekeh mendengarnya. Emangnya jodoh itu ikan ya?? bisa dibuang-buang ke laut.
Aku juga heran pada Ayah dan ibu. Adik-adikku memberi enam cucu yang lucu, manis dan sehat untuk memanggil mereka kakek dan nenek. Tapi mereka seakan tak pernah lelah menyuruhku segera menikah agar mereka bisa menimang cucu dariku. Ketika kutawarkan untuk mengadopsi seorang anak dari panti asuhan, Ibu dan Ayah malah mencak-mencak. Laaah, memangnya menikah itu satu-satunya alat produksi cucu? Aku mampu kok menghidupi seorang anak walaupun cuma adopsi. Tapi Ayah malah melotot dan ibu mengomel tak karuan. Sedangkan aku, ya santai aja tertawa.
Ibu bahkan melarangku ikut mudik setiap kali giliran mereka pulang ke Kuningan dengan alasan klasik karena ibu cape menjadi tameng penolakanku. Tetangga dan keluarga di kampung memang doyan sekali menjodohkanku. Bukan karena aku tak mau dijodohkan dengan orang kampung, tapi memang mereka jauh dari keinginanku.
Beberapa teman menyarankan agar aku diruwat, entah apa itu. Sebagian lagi mengajakku ke orang pintar. Aku hanya menanggapinya dengan tertawa. Ya bagaimana nggak? Apa ke orang pintar bisa membuatku menemukan jodoh lebih cepat? Cepat mana dengan memintanya langsung ke Allah? Aku hanya tertawa karena tak ingin membuat mereka tersinggung. Mereka yang kuliah dan pinter seperti itu, kok malah ngajak ke orang “pinter” yang jelas-jelas sekolah saja belum tentu selesai. Mau minta sesuatu saja mesti repot pakai acara tabur bunga, bakar kemenyan dan menyogok pakai sesajen. Padahal minta sama Allah, aku hanya perlu sholat.
Adikku Laras juga ikut-ikutan. Ia memintaku memberikan semua koleksi bonekaku pada anak-anak perempuannya. Alasan Laras, kata orang perempuan yang koleksi boneka  pasti jauh dari jodoh. Aduuh, gak la yaow! Masa sudah cape-cape mengoleksi sejak SMA lalu mau kuberikan begitu saja? Lagipula apa hubungannya? Justru aku berencana kalau nanti menikah dan punya anak, aku jadi bisa bermain bersama anak-anakku. Waktu kujawab kalau itu akal-akalannya saja supaya anaknya mendapatkan koleksi bonekaku, dia malah merengut marah.
Beberapa rekan kerja perempuan yang sudah menikah, seringkali menyindirku. “Ya manalah dia bisa ngerti perasaan istri,dia kan perawan tua”. Aku cuma bisa tersenyum miris meski hati sakit disindir seperti itu. Tapi saat dia curhat tentang masalah rumah tangganya, akupun hanya bisa berbisik dalam hati, “itulah sebabnya aku lebih baik menunggu orang yang tepat.”
Tahukan kalian? Aku benar-benar menikmati hidup terlepas dari orang-orang yang selalu berusaha menjodohkanku, selalu berusaha menasehatiku seakan-akan menikah adalah sesuatu yang harus kulakukan sampai kata “yes, i do” saja. Bagiku menikah adalah tentang keinginan untuk berbagi. Berbagi suka, berbagi derita, dan saling terima satu sama lain kelebihannya juga kekurangannya.
Aku juga ingin menikah. Tapi aku juga ingin bahagia. Aku tak mau menikah karena terpaksa, karena harga diri, karena usia atau karena keinginan orang-orang di sekitarku. Bukan karena aku pemilih, bukan karena aku terlalu mencari sosok sempurna.
Masalah jodoh, bukannya aku tak berusaha. Bukannya aku tak mencoba. Malah pernah di satu titik, aku sempat menurunkan standar laki-laki yang akan menjadi pilihanku. Aku bahkan menghapus hampir separoh dari kriteria idealku, hanya agar bisa menemukan jodoh. Tapi sulit, hati tak dapat dibohongi. Harus kuakui, pantas saja Islam menyarankan poligami karena lelaki dengan kesolehan seperti yang kuinginkan itu sangat sulit sekali dicari. Tapi tentu saja, aku tetap tak ingin menyakiti siapapun dengan menjadi istri kedua,  karena itu juga termasuk menyakiti diriku sendiri. Itu sebabnya aku tetap menunggu.
Aku melihat beberapa teman kerja, teman-teman sekolah menikah dan punya anak di usia yang menurut orang lain adalah usia ideal. Tapi separuh dari teman-temanku yang sudah menikah itu, harus berjuang hampir setengah dari umur pernikahan hanya untuk menyatukan visi dan misinya dengan pasangannya. Iya kalau berhasil kalau tidak? Lalu salahkah jika aku belum menemukan Mr. Right?
Aku menikah karena aku ingin bahagia. Aku bukan salah satu dari perempuan yang bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kenapa harus seperti itu kalau kita bisa menunda sebentar, tapi bersenang-senang seterusnya. Aku tak ingin punya lima belas tahun usia pernikahan  tapi hanya lima tahun aku benar-benar merasa bahagia karena sepuluh tahun kuhabiskan untuk berjuang demi pernikahanku. Aku ingin menikah saat hatiku, jiwaku, keuanganku dan keinginanku benar-benar siap serta sesuai rencanaku.
Aku jomblo, so what? Aku jomblo tapi aku bahagia. Aku masih punya dua orangtua yang sangat baik, yang menyayangi dan mencintaiku. Soal jodoh, biarkan aku menantinya dengan kesabaran dan keyakinan suatu hari nanti Allah SWT pasti mendengar doa-doaku, doa adik-adikku, doa ibuku dan ayahku dengan mendatangkan seorang lelaki soleh dan baik pada keluargaku.
Aku menikmati hidupku sebagai seorang jomblo, menjalaninya dengan mengisi hari-hariku dengan manfaat. Walaupun tak punya suami ataupun anak, aku punya banyak teman untuk berbagi, punya keponliakan-keponakan manis dan lucu serta adik-adik yang setiap saat bersedia mendengar keluh kesahku. Sekali lagi aku bilang, Aku jomblo so what? Justru aku sekarang ingin bertanya,  kau yang punya pasangan, apakah kau bahagia?.

Karena menikah muda (19 tahun) penulis tak begitu memahami mengenai dunia jomblo. Pengalaman ini diceritakan seorang teman yang menikah di usia 37 tahun, saat ini sudah memiliki sepasang anak yang berprestasi di usia 44 tahun dan alhamdulillah pernikahannya pun bahagia. Beliau menitipkan cerita ini agar dibuat menjadi pelajaran betapa menunggu jodoh itu tak ada salahnya. Terima kasih bunda Tasya!

0 comments:

Post a Comment

© Ruang Cerita, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena